Panduan Sederhana agar Tidak Salah Pilih Investasi

Bagi banyak orang yang baru belajar investasi, pertanyaan ini sering muncul: apa sebenarnya perbedaan saham syariah dan saham konvensional? Sekilas terlihat sama-sama saham, sama-sama diperdagangkan di bursa, dan sama-sama bisa menghasilkan keuntungan. Namun jika dilihat lebih dalam, ada perbedaan mendasar yang penting untuk dipahami.
Artikel ini akan membahas perbedaan tersebut dengan bahasa yang sederhana, tanpa istilah rumit, agar mudah dipahami oleh pemula.
Pengertian Saham Syariah dan Saham Konvensional
Sebelum membahas perbedaannya, kita perlu memahami pengertiannya terlebih dahulu.
Saham syariah adalah saham perusahaan yang kegiatan usahanya dan cara pengelolaan keuangannya sesuai dengan prinsip syariah Islam. Saham ini tidak mengandung unsur riba, judi, dan ketidakjelasan (gharar).
Sementara itu, saham konvensional adalah saham perusahaan yang tidak memiliki batasan syariah. Selama legal secara hukum dan terdaftar di bursa, saham tersebut bisa diperdagangkan, meskipun bisnis atau struktur keuangannya mengandung bunga.
Perbedaan Saham Syariah dan Saham Konvensional
Berikut beberapa perbedaan utama yang perlu Anda ketahui:
- Jenis Usaha Perusahaan
Perbedaan paling mendasar terletak pada bidang usaha.
Saham syariah hanya berasal dari perusahaan yang menjalankan bisnis halal, seperti:
- Telekomunikasi
- Infrastruktur
- Konsumsi halal
- Energi dan pertambangan
Sedangkan saham konvensional bisa berasal dari berbagai jenis usaha, termasuk:
- Bank berbasis bunga
- Perusahaan rokok
- Minuman keras
- Usaha dengan unsur spekulasi tinggi
Artinya, tidak semua saham konvensional bisa masuk kategori saham syariah.
- Unsur Riba dan Bunga
Dalam saham syariah, unsur riba sangat dibatasi. Perusahaan harus menjaga rasio utang berbasis bunga agar tidak melebihi ketentuan yang ditetapkan oleh regulator syariah.
Pada saham konvensional, penggunaan utang berbunga adalah hal yang umum dan tidak menjadi masalah.
Inilah salah satu alasan utama mengapa banyak investor Muslim memilih saham syariah, karena lebih selaras dengan nilai Islam.
- Pengawasan dan Regulasi
Saham syariah diawasi secara khusus oleh:
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
- Dewan Syariah Nasional – MUI
OJK secara rutin menerbitkan Daftar Efek Syariah (DES) untuk memastikan saham-saham tersebut tetap sesuai prinsip syariah.
Sementara saham konvensional hanya diawasi dari sisi hukum dan keuangan, tanpa pertimbangan halal atau haram.
- Cara Memperoleh Keuntungan
Keuntungan saham syariah berasal dari:
- Kinerja bisnis nyata
- Pertumbuhan perusahaan
- Pembagian dividen dari laba usaha halal
Sedangkan saham konvensional bisa memperoleh keuntungan dari:
- Kinerja bisnis
- Bunga
- Aktivitas keuangan yang bersifat spekulatif
Meski secara nominal keuntungannya bisa mirip, cara mendapatkannya berbeda.
- Pendekatan Investasi
Saham syariah umumnya lebih cocok untuk:
- Investasi jangka menengah hingga panjang
- Investor yang mengutamakan kestabilan
- Investor yang ingin tenang secara finansial dan spiritual
Saham konvensional lebih fleksibel, termasuk untuk:
- Trading jangka pendek
- Strategi agresif
- Investor yang fokus pada return tanpa batasan nilai tertentu
Apakah Saham Syariah Kurang Menguntungkan?
Ini adalah anggapan yang sering keliru. Faktanya, saham syariah bisa sangat menguntungkan, tergantung pada kualitas perusahaan dan strategi investornya.
Banyak saham syariah berasal dari perusahaan besar dengan fundamental kuat. Bedanya, saham syariah lebih menekankan keberlanjutan dan kehati-hatian, bukan keuntungan instan.
Mana yang Lebih Baik: Saham Syariah atau Konvensional?
Tidak ada jawaban mutlak. Semuanya kembali pada tujuan dan nilai pribadi masing-masing investor.
Jika Anda:
- Menginginkan investasi yang halal
- Menghindari riba
- Fokus jangka panjang
Maka saham syariah bisa menjadi pilihan yang tepat.
Namun jika Anda tidak memiliki batasan syariah dan ingin fleksibilitas penuh, saham konvensional mungkin terasa lebih luas opsinya.


