
Kalau kamu baru mulai tertarik investasi saham tapi ingin tetap di jalur yang aman secara syariah, pertanyaan pertama yang wajar muncul adalah: saham syariah apa saja yang tersedia dan bisa dibeli?
Pertanyaan ini lebih kompleks dari yang terlihat. Bukan karena daftarnya rumit, tapi karena daftar saham syariah itu berubah setiap enam bulan. Saham yang bulan ini masuk bisa saja keluar di periode berikutnya. Jadi daripada mengandalkan daftar statis yang bisa kadaluarsa, jauh lebih berguna kalau kamu tahu cara mengeceknya sendiri—kapanpun kamu mau.
Di artikel ini, kita bahas dua hal sekaligus: gambaran saham-saham yang umumnya masuk kategori syariah berdasarkan sektor dan indeksnya, plus panduan praktis cara cek status syariah sebuah saham secara mandiri.
Siapa yang Menentukan Saham Itu Syariah atau Tidak?
Sebelum masuk ke daftarnya, penting untuk tahu dulu: di Indonesia, tidak ada perusahaan yang bisa mengklaim sendiri bahwa sahamnya ‘syariah’ tanpa proses verifikasi resmi.
Yang berwenang menentukan adalah OJK (Otoritas Jasa Keuangan), bekerja sama dengan DSN-MUI. Hasilnya dituangkan dalam Daftar Efek Syariah (DES)—dokumen resmi yang memuat semua saham yang sudah lolos seleksi syariah.
Seleksi dilakukan dua kali setahun, biasanya selesai pada:
- Mei — untuk periode semester pertama
- November — untuk periode semester kedua
Setiap periode, ada saham yang baru masuk dan ada yang keluar. Jadi kalau kamu mengandalkan info dari artikel atau forum yang tidak disebutkan tanggal updatenya, ada risiko datanya sudah tidak relevan.
📋 Dua Kriteria Utama Masuk DES 1. Bisnis utama tidak menyentuh sektor haram (judi, alkohol, riba murni, rokok, dsb) 2. Rasio utang berbasis bunga tidak melebihi 45% dari total aset, dan pendapatan non-halal tidak lebih dari 10% total pendapatan
Sektor yang Umumnya Masuk Daftar Saham Syariah
Karena daftar lengkapnya selalu berubah dan harus dicek langsung dari sumber resmi, yang bisa diberikan di sini adalah gambaran sektor-sektor yang secara konsisten banyak mengisi DES:
Teknologi dan Telekomunikasi
Perusahaan teknologi dan telekomunikasi yang tidak melibatkan konten berbasis bunga atau aktivitas haram biasanya tidak ada hambatan masuk DES. Sektor ini cukup banyak terwakili karena model bisnisnya relatif bersih dari unsur yang dilarang.
Consumer Goods Halal
Produsen makanan halal, minuman non-alkohol, produk rumah tangga, dan kebutuhan sehari-hari masuk dalam kategori ini. Beberapa nama besar dari sektor ini secara konsisten ada di indeks JII maupun ISSI.
Properti dan Konstruksi
Perusahaan properti dan konstruksi bisa masuk DES selama tidak mengandalkan pembiayaan ribawi secara dominan. Yang perlu diperhatikan adalah rasio utang mereka—sektor properti cenderung punya leverage tinggi, jadi tidak semua otomatis lolos.
Energi dan Pertambangan
Perusahaan di sektor energi, tambang batubara, minyak dan gas, serta mineral banyak yang masuk DES. Jenis bisnisnya pada dasarnya netral dari sisi syariah—yang jadi perhatian biasanya tetap soal rasio utang dan pendapatan.
Kesehatan dan Farmasi
Rumah sakit, farmasi, dan alat kesehatan umumnya bisa masuk DES selama produk dan layanannya tidak mengandung unsur yang diharamkan. Sektor ini cukup stabil di DES karena nature bisnisnya yang langsung melayani kebutuhan dasar manusia.
Perbankan dan Keuangan Syariah
Ini yang membedakannya dari saham konvensional: bank syariah bisa masuk DES, sementara bank konvensional tidak. Perusahaan asuransi syariah, multifinance syariah, dan lembaga keuangan berbasis bagi hasil juga termasuk dalam kategori yang bisa lolos seleksi.
⚠️ Sektor yang Tidak Masuk DES Bank dan multifinance konvensional, perusahaan rokok, produsen/distributor alkohol, bisnis perjudian, dan industri hiburan dewasa — sektor-sektor ini secara konsisten tidak masuk DES.
Cara Cek Saham Syariah Apa Saja yang Terdaftar Saat Ini
Nah, ini yang paling penting. Daripada mengandalkan daftar dari pihak ketiga, lebih baik langsung cek dari sumber resminya. Ada tiga cara yang bisa kamu pakai:
Cara 1: Download DES Langsung dari Situs OJK
Ini cara paling akurat dan terpercaya. Langkahnya:
- Buka halaman Pasar Modal Syariah OJK
- Cari menu atau link bertuliskan ‘Daftar Efek Syariah’
- Download file PDF atau Excel DES terbaru
- Cari nama atau kode saham yang ingin kamu cek
File ini tersedia gratis dan diperbarui setiap Mei dan November. Pastikan kamu selalu pakai versi terbaru, bukan yang lama.
Cara 2: Pantau Indeks JII dan ISSI di BEI
Bursa Efek Indonesia mengelola beberapa indeks saham syariah yang bisa jadi panduan cepat. Kunjungi halaman IDX Syariah untuk melihat daftar saham yang masuk indeks JII (30 saham paling likuid) dan ISSI (semua saham di DES).
Bedanya dengan DES: JII dan ISSI adalah indeks yang juga mempertimbangkan faktor likuiditas dan kapitalisasi—jadi tidak semua saham di DES otomatis masuk JII, tapi semua saham di JII pasti ada di DES.
Cara 3: Gunakan Filter Syariah di Aplikasi Broker
Kalau kamu sudah punya akun di aplikasi investasi saham, banyak platform yang sudah menyediakan fitur filter atau tab khusus ‘Saham Syariah’. Biasanya filternya sudah terintegrasi dengan data DES terbaru—jadi praktis tanpa perlu buka situs terpisah.
Pastikan broker yang kamu pakai memang menyediakan fitur ini dan datanya diperbarui secara berkala. Kalau ragu, tetap jadikan DES dari OJK sebagai rujukan utama.
✅ Tips Penting Jangan hanya cek sekali lalu anggap selesai. DES berubah dua kali setahun. Tandai kalender kamu di bulan Mei dan November — itu waktu yang tepat untuk evaluasi ulang portofoliomu dan memastikan semua saham yang kamu pegang masih terdaftar.
Contoh Saham yang Sering Muncul di Indeks Syariah
Meski daftar lengkapnya harus selalu dicek dari DES terbaru, ada beberapa saham yang secara historis sering muncul di indeks JII karena kombinasi fundamentalnya yang kuat dan bisnisnya yang konsisten lolos seleksi syariah. Ini bukan rekomendasi beli—ini hanya gambaran jenis saham yang umumnya masuk:
- Sektor telekomunikasi: Beberapa operator telekomunikasi besar Indonesia secara konsisten masuk DES dan bahkan JII.
- Sektor perbankan syariah: Bank-bank yang beroperasi penuh dengan prinsip syariah hampir selalu ada di DES.
- Sektor consumer goods: Produsen produk konsumsi bersertifikat halal yang sudah establish di pasar Indonesia.
- Sektor energi: Beberapa perusahaan di sektor energi dan pertambangan yang punya neraca keuangan sehat.
- Sektor infrastruktur: Perusahaan jalan tol dan utilitas yang model bisnisnya tidak berbenturan dengan prinsip syariah.
📌 Ingat Masuk DES bukan berarti sahamnya bagus untuk dibeli sekarang. Status syariah dan kualitas investasi adalah dua hal yang berbeda. Tetap lakukan analisis fundamental—perhatikan pertumbuhan laba, valuasi, dan prospek bisnis—sebelum memutuskan beli.
Perbedaan JII, JII70, dan ISSI — Mana yang Jadi Acuan?
Kalau kamu mulai sering baca berita investasi syariah, pasti sering ketemu tiga nama ini. Biar tidak bingung, ini penjelasan singkatnya:
ISSI — Paling Lengkap
Indeks Saham Syariah Indonesia mencakup
JII70 — Versi Terpilih
Dari ratusan saham di ISSI, JII70 menyaring 70 saham dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar terbaik. Ini pilihan tengah—lebih luas dari JII tapi lebih selektif dari ISSI.
JII — Yang Paling Ketat
Jakarta Islamic Index berisi hanya 30 saham—yang paling likuid dan aktif diperdagangkan dari seluruh saham syariah. Ini biasanya jadi benchmark utama performa investasi saham syariah di Indonesia.
Buat kamu yang baru mulai, JII bisa jadi titik masuk yang paling praktis: daftarnya pendek, sahamnya aktif, dan semuanya sudah tersaring ketat.
Artikel yang Bisa Melengkapi Langkah Berikutnya
Sudah tahu cara cek daftar saham syariah—langkah selanjutnya adalah memastikan kamu paham konteks yang lebih luas sebelum mulai beli:
- Mau pahami dulu apa bedanya saham syariah dan konvensional secara mendalam? Baca: Pengertian Saham Syariah dan Perbedaannya dengan Saham Konvensional
- Masih penasaran soal status hukumnya dalam Islam? Baca: Hukum Investasi Saham dalam Islam: Boleh atau Tidak?
- Ingin tahu cara membedakan saham halal dan haram secara praktis? Baca: Saham Halal atau Haram? Begini Cara Membedakannya dengan Tepat
- Sudah siap mulai dan butuh panduan dari nol? Cek: Kelas Gratis Saham Syariah
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah saham syariah bisa dibeli oleh non-Muslim?
Tentu bisa. Tidak ada aturan yang membatasi siapa yang boleh berinvestasi di saham syariah. Banyak investor non-Muslim yang justru memilih saham syariah karena alasan etis—menghindari investasi di perusahaan rokok, alkohol, atau yang dianggap bermasalah secara moral.
Berapa banyak saham yang masuk DES saat ini?
Jumlahnya berubah setiap periode evaluasi. Secara umum, DES biasanya berisi ratusan saham—jauh lebih banyak dari sekadar yang ada di JII (30 saham) atau JII70 (70 saham). Untuk angka pastinya, cek DES terbaru langsung dari situs OJK.
Kalau saham favorit saya tidak ada di DES, apakah haram untuk dibeli?
Tidak otomatis haram. Ada saham yang bisnisnya sebenarnya halal tapi tidak masuk DES karena rasio keuangannya melewati batas yang ditetapkan OJK—misalnya utang berbunga yang terlalu tinggi. Ini area abu-abu yang perlu kamu pertimbangkan sendiri, atau diskusikan dengan ulama atau konsultan keuangan syariah jika ingin kepastian lebih lanjut.
Kesimpulan
Pertanyaan saham syariah apa saja yang bisa dibeli tidak bisa dijawab dengan satu daftar statis—karena daftarnya memang selalu berubah. Yang lebih berguna adalah tahu cara mengeceknya sendiri.
Tiga cara terbaik: download DES dari OJK, pantau indeks JII dan ISSI di BEI, atau pakai fitur filter syariah di aplikasi brokermu. Dari ketiganya, DES dari OJK adalah yang paling otoritatif dan lengkap.
Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan: masuk DES bukan berarti sahamnya otomatis layak dibeli. Status syariah menjawab soal ‘boleh atau tidak’—tapi analisis fundamental yang menjawab soal ‘bagus atau tidak’. Pastikan keduanya kamu perhatikan sebelum memutuskan.





